Run The World


My catharsis place..cause my purpose is to entertain myself first and other people secondly..so, just come and serve yourself

Ask me anything

Submit

Mungkin Saya yang Diam Saja

“Lihat segalanya, lebih dekat dan kau akan mengerti” _Sherina_

Benar ternyata, sebelum mengoreksi terlalu banyak, ngomel terlalu sering, dan ngedumel semakin kencang ternyata memang harus melihat lebih dekat.

Saya akui, cukup mudah pikiran saya teracuni oleh caci maki orang lain atau media tentang pemerintah sehingga saya pun menjadi bagian di dalamnya. Seolah pemerintah tak melakukan apa-apa. Seolah mereka membiarkan negara ini rontok perlahan-lahan.

Pemerintah selalu menjadi pembenaran atas hal yang hanya perlu untuk dipersalahkan. Tanpa disadari waktu yang diberikan sudah habis hanya untuk marah kepada pemerintah daripada bertindak nyata.

Dimulai pada tahun 2012 kemarin ketika saya mengikuti salah satu kegiatan di UI. Ketika itu saya harus ke daerah pelosok untuk mengetahui pendidikan dan keadaan masyarakat di sana. Dari situlah saya tahu, pemerintah TIDAK DIAM SAJA.

Dari perjalanan itu saya tahu semakin banyak masyarakat Indonesia dapat merasakan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama semenjak ada Bantuan Operasional Sekolah. Semakin banyak Kepala Sekolah terbantu karena dapat menggaji guru honorer, membeli fasilitas sekolah, memberi fasilitas belajar untuk anak didik mereka tanpa perlu membebani orang tau siswa. Pemerintah TIDAK DIAM SAJA.

Dari perjalanan itu saya juga tahu banyak fasilitas penunjang untuk siswa. Mulai dari buku cetak hingga alat peraga, semuanya diberikan oleh pemerintah. Bahkan sekolah yang berada di paling barat Pulau Jawa ini lebih baik secara kualitas dan fasilitas dibandingkan SD saya dulu. Kalau kata Kepala Sekolahnya semua itu karena dana Bantuan Operasional Sekolah. Pemerintah TIDAK DIAM SAJA.

Ketika pertama kali ke sekolah tujuan, saya begitu sedih mengetahui hanya ada 2 guru yang mengajar 6 kelas. Bahkan banyak anak-anak yang pada akhirnya harus ke sekolah tanpa bisa belajar karena tak ada guru. tapi tahukah, itu bukan karena pemerintah tak mau memberikan guru tapi karena memang tak ada guru yang mau mengajar disana. Sudah banyak guru yang diberi surat perintah untuk mengajar mereka, sayangnya tidak banyak yang bertahan. 

Ketika terjun ke masyarakat, saya sedih karena tak ada tenaga kesehatan di beberapa kampung. Mereka harus berjalan jauh apabila ingin mendapatkan akses kesehatan. Tapi itu semua karena tak ada tenaga kesehatan yang mau bertahan di sana. Akses jalan pun sulit, banyak masyarakat mengeluhkannya. Tapi menjadi kontradiktif ketika ada beberapa jalan yang sudah berkali-kali diperbaiki tetapi rusak lagi dalam waktu dekat karena memang kontur tanahnya.

Hingga pada suatu hari, ketika sesi perkenalan dengan pengajar asli di sana. Ada seorang guru berkata “Kalau kalian sudah lulus nanti, memangnya mau kerja di sini lama?”

Deg..rasanya seperti di tampar. Saya sering sekali menyalahkan pemerintah. Mencaci maki mereka. Tapi jarang melihat pada diri sendiri. Iya ya? memangnya saya sendiri mau kalau sudah lulus menghabiskan waktu untuk mengabdi di tempat seperti itu? tempat dengan akses dan fasilitas yang sulit? Bahkan cita-cita pun tak pernah ada. Malu…

Sebanyak apapun usaha pemerintah jika tak ada warga yang mau melakukannya memang akan sia-sia.
Maka memang benar adanya jika “Lebih baik nyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”

Sampai saat ini, ketika saya masih menyalahkan pemerintah, seharusnya saya bertanya. Mungkinkah Saya yang Diam Saja?

Ketika berlari. Sadarlah suatu saat tubuhmu butuh untuk berhenti. Berhenti untuk menikmati detak jantung yang mengalirkan darah lebih deras dan berhenti untuk menghirup udara lebih banyak

Gerakan #1000 Seragam

imageKetika mendatangi

sekolah dasar di Desa Kertaraharja dan Kutamekar,Sobang, Banten. Jangan bayangkan akan bertemu dengan anak-anak dengan tab atau I-Pad di tangan, menggantungkan HP di leher, atau baru saja turun dari mobil mewah. Baju putih merah yang layak pun dapat dihitung jumlah anak yang memakainya.

Tidak heran ketika sedang berbincang dengan kepala sekolah beliau berkata “Saya sebenarnya ingin memberikan anak-anak seragam, tapi apa boleh buat uangnya tidak ada”. Lebih menohok lagi ketika ada seorang guru yang berkata “Kerja baktinya pake baju bebas aja, takut ada yang bajunya cuma 1”. Fakta ini lebih menyakitkan lagi ketika seorang ibu berkata “Ah ga tau de mau lanjut SMP apa nggak, kan bayarnya mahal, seragam kaya gini kan beli de”.

Kata-kata terakhir seperti tamparan menyakitkan ketika ada orang tua yang ragu untuk melanjutkan sekolah anaknya hanya karena “seragam”. Seragam yang mungkin dapat dibeli dengan uang jajan kita sehari. Tapi tidak untuk mereka.

Berangkat dari situlah gerakan ini lahir… Memang tak tampak mewah dan esensial jika dilihat. Tapi bicara soal buku, bangungan sekolah yang bagus, alat peraga, alat tulis, itu semua telah mereka dapatkan. Saat ini yang mereka butuhkan adalah seragam.

Seragam agar mereka bisa lanjut sekolah. Seragam agar mereka tak lagi ditegur oleh guru karena memakai baju bebas. Seragam sebagai identitas mereka sebagai murid Sekolah Dasar.

Ayo gabung, bantu adik-adik kita dengan donasi dana atau seragam baru! Gerakan #1000Seragam

Bukan hal yang mudah untuk membuat ini semua.

Awalnya aku sempat ragu. Benarkah ini semua membawa manfaat bagi mereka? Benarkah mereka mau dibantu? Benarkah ini tidak akan membuat luka baru? Benarkah tempat ini yang seharusnya dituju?

Lalu tak terasa akhirnya semua itu memang harus dimulai.

Berawal dari sebuah tantangan yang harus kami hadapi untuk menuju ke tempat itu hingga pada akhirnya kami menemukan keluarga baru.

Desa sederhana namun begitu indah dan damai disitulah kami harus menikmati 23 hari bersama. Menjadi akamsi atau anak kampug sini sudah seperti naluri yang mengalir semakin pekat.

Semakin hari kami menemukan semakin banyak  permata. Mereka bukan tak terlihat hanya belum dimasukkan ke dalam etalase mewah. Mereka bukan tak bersinar hanya tokonya saja yang salah.

Tapi dengan melihat mereka aku yakin Indonesia punya masa depan cemerlang. Dan dengan mimpi yang mereka bawa satu persatu aset berharga milik negara akan segera lahir..

Aku bersyukur karena Tuhan telah menuntn kami menuju tempat itu. Tempat kami dipertemukan dengan anak-anak hebat yang kelak akan menopang bangsa ini serta orang-orang hebat yang tak pernah lelah membentuk para pemimpin masa depan.

Terimakasih untuk pengalamannya :)

Terhebat -Coboy Junior-

image

Hey kawan
Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya takut
Takut tuk mencoba dan gagal, tapi….
Hey kawan
Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya mimpi
Mimpi tuk menjadi berarti karena


Harus kita taklukan, bersama lawan rintangan
Tuk jadikan dunia ini lebih indah
Tak perlu tunggu hebat
(Untuk berani memulai apa yang kau impikan)


Hanya perlu memulai (untuk menjadi hebat raih yang kau impikan)
Seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takut
Yakini bahwa kamu kamu kamu kamu terhebat

Coba cobalah mari kita pasti bisa taklukan dunia dengan mimpi kita
Mari berbagi mari bermimpi bersama kita disini

Yakini kau pasti bisa .

Its CJR in the heart
Dan membuatmu percaya
Kamu terhebat seperti singa


Tak perlu tunggu hebat
(Untuk berani memulai apa yang kau impikan)
Hanya perlu memulai
(Untuk menjadi hebat raih yang kau impikan)

Seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takut
yakini bahwa (kamu hebat seperti singa)

Seperti singa yg menerjang semua rintangan tanpa rasa takut
Yakini bahwa kamu kamu kamu kamu terhebat

Terimakasih Tuhan

imageTerimakasih Tuhan.

Dari semua ini aku tahu, kau tidak membiarkan semua terjadi begitu saja. Selalu ada jawaban dari pertanyaan atas setiap tetes embun yang menyentuh tanah.

Kau biarkan aku menjalani semuanya. Kau biarkan aku tertawa, biarkan aku menangis, biarkan aku bahagia, dan biarkan aku bersedih. Agar aku tak hanya menjalani hidup ini tapi menghidupi hidupku. 

Terimakasih sudah menakdirkanku untuk berada di tempat luar biasa. Tempat aku tahu bahwa hidupku bukan hanya tentang aku. Tempat aku tahu bahwa merekalah yang memberikan nyawa pada banyak kehidupan umat manusia. Tempat aku tak lagi hanya memikirkan akan harapanku. Tempat aku tak lagi hanya 

berpikir masa depanku, tapi masa depan mereka.

Terimakasih sudah mengijinkanku mengenal orang-orang hebat. Orang-orang yang bergerak dengan hati. Orang-orang yang tahu kemana cinta akan terpatri. Orang-orang yang tahu caranya berbelas kasih karena memberi memang tanpa pamrih. 

dan Tuhan, terimakasih sudah mengenalkanku pada anak-anak itu. Anak-anak yang mengajarkanku untuk terus bahagia. Anak-anak yang memberikanku alasan untuk bertahan karena siapa. Anak-anak yang meyakinkanku untuk berlari mengejar mimpi. 

Tuhan, terimakasih untuk kehidupan ini. Melalui tulisan ini, aku selalu berusaha yakin bahwa ada jawaban ADA YANG LEBIH INDAH dari-Mu

YAKIN :)

Film itu kembali mengingatkanku bahwa aku pernah mengucapkan mimpi-mimpiku ketika aku berseragam dulu,

mengucapkannya di depan teman-temanku ketika kami sedang bersama-sama bermimpi akan masa depan kami masing-masing.

Masih teringat jelas di benakku, ketika kita sama-sama berjanji, akan bertemu nanti  

Bertemu dengan kesuksesan yang telah kita impikan. Bertemu di puncak kemegahan impian yang menjadi kenyataan.

Saat ini aku harus kembali YAKIN..YAKIN bahwa Allah tidak hanya punya jawaban Iya atau Nanti tapi juga punya jawaban LEBIH INDAH DARI YANG PERNAH KAU IMPIKAN.

Seperti Sedang Menjadi Ibu

Aku seperti sedang menjadi ibu. Seorang Ibu yang membesarkan anak-anaknya agar kelak Ia dapat bertahan dalam kehidupan. Ibu yang ingin memberikan bekal kepada anak-anaknya untuk menghadapi kehidupan. Ibu yang ingin anak-anaknya tahu bahwa ada kehidupan indah di luar sana jika menjalaninya dengan cinta.

Aku seperti sedang menjadi Ibu. Ibu yang khawatir apakah anaknya dapat tumbuh dengan baik. Ibu yang khawatir apakah anaknya akan menghadapi masalah nanti dan ibu yang takut anaknya tak belajar apa-apa untuk bekal mereka ketika besar.

Tapi perlahan aku tahu. Seorang Ibu tak selamanya harus memegangi anaknya agar ia dapat berjalan. Menemani anaknya agar ia dapat bersosialisasi, atau menasehati anaknya agar ia tak pernah salah.

Aku tahu perlahan aku harus melepaskan, agar sesekali anakku jatuh kemudian dapat bangkit lagi. Meninggalkan anakku sejenak agar kemudian ia mandiri dan membiarkan anakku salah agar ia tahu yang benar.

Perlahan aku tahu bahwa rasa khawatir dan takutku tak berarti. Aku tahu bahwa itu semua pada akhirnya akan berubah menjadi rasa percaya dan bangga.

Percaya mereka bisa melakukan hal luar biasa dan bangga bahwa mereka ada di sini untuk Gerakan UI Mengajar Angkatan 2.

Aku tahu kalian HEBAT :) ..

Satu Hati, Mengabdi, Memberi Arti..

Nyanyian Dunia dan Kita

image

ingatkah kawan akan lagu yang kita mainkan, sambil menunggu hujan berhenti dan kembali, kembali meresap ke dalam bumi. Saat itu kau mengajakku bernyanyi nyanyian tentang dunia dan kita. Bernyanyi akan mimpi-mimpi indah setelah nanti kita tak bersama. Tahukah kawan, saat ini aku rindu, aku rindu pada tetesan air yang mengintip kita dari balik kaca seperti ingin ikut bercerita. Aku rindu pada keheningan angin yang menyusup dari sela pintu yang terbuka. Seolah sedang menari mengikuti iringan melodi.dan aku rindu pada cerita kita. Cerita penuh tawa. Tawa akan dunia dan kita.

Pendidikan : Sekolah formal atau jalanan?

Pendidikan di dunia yang sesungguhnya? atau pendidikan formal di sekolahan?

Topik itu yg sejak kemarin menjadi perbincangan saya, kakak saya, dan ayah saya.

Memang saat ini sangat banyak contoh orang-orang yang bisa sukses tanpa mengenyam bangku sekolah, banyak yang menyebutnya dengan anak jalanan. Juga banyak sekali contoh-contoh orang yang tak sukses padahal sudah mengenyam bangku sekolah tinggi-tinggi. Sebenarnya apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia sampai-sampai semakin banyak orang yang berpikir bahwa mengenyam pendidikan formal tinggi-tinggi itu tidak perlu? cukup bisa survive, bisa kreatif, dan bisa menghasilkan banyak orang maka seseorang dapat dikatakan sukses.

Sampai saat ini saya sebenarnya masih percaya bahwa pendidikan formal penting. Pendidikan formal tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan berupa penghitungan, bahasa, atau sejarah dll. Lebih dari itu, menurut saya pendidikan formal membentuk pola pikir dan karakter yang mungkin tak didapatkan di luar. Selain itu, pendidikan formal juga memberikan ilmu yang dapat mengangkat derajat seseorang.

Tapi toh kenyataan saat ini banyak orang-orang yang setelah selesai dengan sekolah formalnya, lalu bingung akan kemana? apa yang akan dilakukan? bahkan tidak tahu akan berguna apa untuk orang lain.

Terlebih lagi kalau melihat kebiasaan mencontek yang justru lahir dari bangku sekolah, tawuran yang dilakukan anak sekolah, dan korupsi yang dilakukan oknum sekolah..saya sebenarnya jadi mempertanyakan lagi..benarkah semua sekolah formal itu pantas untuk dibilang penting? atau hanya sekolah-sekolah yang memang bagus sekali saja?

Saya jadi mempertanyakan.. kalau tidak dengan sekolah formal justru bisa mendapat lebih banyak ilmu tentang kehidupan, kenapa harus sekolah? jika dengan tidak sekolah formal justru bisa lebih banyak mendapat uang, kenapa harus sekolah? tapi jika semua tak sekolah dan hanya mengandalkan jalanan.. apa jadinya ya negara ini??